Mobil Bukan Termasuk Investasi Menguntungkan, Benarkah?

135
Mobil bekas jadi alternatif pilihan ketika harga mobil baru melambung

Kemudi.id – Setiap orang punya cara dalam pemilihan investasi. Sebagian kalangan menganggap mobil sebagai investasi. Padahal, pemikiran ini salah besar!

Deva, selaku pemain jual beli mobil bekas di kawasan Pondok Bambu, Jakarta, menuturkan, setiap mobil yang dibeli dipastikan akan terus menurun nilainya setiap tahun, bukan sebaliknya.

“Justru, semakin mahal mobil yang Anda beli, semakin besar depresiasi harganya di masa depan,” kata Deva.

Perhitungan kasarnya, depresiasi nilai mobil baru yang sudah dibeli konsumen, ada tiga kategori utama. Pertama, jenis kendaraan kelas murah sampai menengah seperti LCGC sampai Toyota Avanza, misalnya. Pada tahun pertama pembelian, nilainya sudah turun 7-10 persen dari harga beli.

Salah satu model Mercedes-Benz

Kedua, kategori kendaraan menengah sampai atas. Pada kategori ini biasa masuk sedan mini sampai menengah atau sekelas sport utility vehicle (SUV).

“Untuk jenis mobil-mobil besar seperti ini, penurunan nilai bisa mencapai 10-15 persen di tahun pertama, terus menerus di tahun-tahun selanjutnya,” ujar Deva.

Ketiga, kategori mobil premium, yang biasanya harga beli barunya di atas Rp 1 miliar. Untuk mobil-mobil seperti ini, penurunan nilai kendaraan justru lebih besar, bisa mencapai 20 persen pada tahun pertama.

Mobil SUV disarankan dengan pertimbangan safety

“Apalagi kalau pedagang mobil bekas sangat selektif mau membeli mobil premium, biasanya harus di bawah 10.000 km. Kalau di atas, mereka memilih tidak akan membelinya,” jelas Fischer.

Berbeda dengan warga negara-negara maju, membeli mobil adalah membeli sarana transportasi bukan sebagai produk investasi. Pemikiran ini yang perlu diubah konsumen ketika mau beli mobil baru. Mereka harus sudah siap rugi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here