Kemudi.id – PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) sudah menjual S-Presso beberapa tahun ini. Memang tidak terlalu banyak berkeliaran di jalan, tapi tetap menyimpan rasa ingin tahu. Terlebih ada pilihan transmisi otomatis yang cocok untuk mobilitas dalam kota.
Pertama masuk kabin tentu orientasi terlebih dahulu. Pengenalan letak-letak tombol dan lainnya. Termasuk juga tuas transmisi otomatisnya.
Meski sudah sedikit mencermati, namun tetap saja ada yang terlewatkan. Saat ingin membuka kaca depan agak bingung sedikit.
Sebab tidak ada tombol di doortrim. Masa iya pakai sistem ‘engkol’. Tapi juga ternyata tidak ada ‘putarannya’ untuk membuka kaca.
Ternyata Suzuki menaruh tombol power window di dasbor bagian tengah. Agak unik memang dan tidak biasa untuk konsumen Indonesia.
Karena terbiasa tombol power window ada di pintu, redaksi beberapa kali kesulitan saat akan membuka kaca. Terutama jika dibutuhkan dalam waktu singkat.

Memang perlu penyesuaian beberapa hari supaya lebih terbiasa dengan letak tombol tersebut.
O iya, selain letak, jumlah tombolnya juga hanya 2. Padahal Suzuki S-Presso ini 4 pintu. Artinya untuk pintu belakang tidak pakai power window.
Untuk pintu belakang pakai sistem engkol. Sama seperti di Suzuki Karimun Wagon R. Jadul? Tentu Suzuki punya pertimbangan tersendiri.
Dalam berkendara juga harus membiasakan diri dengan model transmisinya. Pakai sistem AGS, agak berbeda dengan matic lainnya.
Tidak ada mode P di tuas transmisi.
Sehingga jika ingin berhenti, tuas transmisi di posisi N saja. Dengan kondisi ini, kunci tetap bisa dilepas dari tempatnya. Jangan lupa aktifkan rem parkir supaya mobil tidak bergerak.
Selain itu, ketika berkendara juga ada yang berbeda. Paling utama saat perpindahan gigi.
Jika yang biasa pakai matic biasa, tentu akan sedikit kaget. Karena sentakan perpindahan gigi sangat terasa. Selain itu ‘jatuh’nya putaran mesin terasa lebih jauh dibanding matic biasa.
Sebenarnya ada cara supaya perpindahan giginya tidak terasa. Berkendara seperti biasa, ketika dirasa akan pindah gigi, angkat pedal gas sedikit, kemudian injak lagi setelah gigi berpindah. Dengan demikian perpindahan tidak akan terasa, hanya saja memang perlu feeling ‘kapan’ untuk angkat gasnya.

Tapi jika sudah terbiasa, perpindahan gigi yang tak biasa tersebut akan menjadi biasa.
Tenaga mesinnya bagaimana?
Menggunakan K10C, 3 silinder, 998 cc, VVT konsumsi bahan bakarnya sangat efisien. Dalam pengetesan terhadap mobil yang sudah berjalan lebih dari 25 ribu kilometer tersebut tetap efisien.
Dipakai dalam kota dengan kondisi lalu lintas yang normal dan juga perjalanan tol, redaksi punya catatan 1 liter bahan bakar RON 92 bisa untuk 16-18 kilometer.
Jika perjalanan lebih banyak di jalan tol dengan kecepatan yang konstan, konsumsi akan jauh lebih efisien lagi.

Sementara itu untuk bantingan suspensinya juga cukup baik untuk SUV compact ini. Dipakai 2 orang, lebih empuk dibanding kalau sendiri.
Saat dicoba dalam kondisi penuh (4 penumpang), redaman suspensi belakang masih baik. Sangat berbeda dengan Suzuki Karimun Wagon R yang langsung terasa ambles dan terlalu empuk jika full capacity.
Suzuki S-Presso SUV kecil ini juga sudah dibekali teknologi Electronic Stability Programme (ESP) dan Hill Hold Control (HHC).
Mobil kompak ini sangat cocok bagi yang lebih sering bepergian sendiri.

Sayangnya tidak ada wiper untuk kaca belakang. Ini agak mengganggu ketika turun hujan, terutama jika hujan tanggung. Karena kotornya kaca belakang jadi tidak bisa dibersihkan.
