Kemudi.id – Industri motor listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai penguatan rantai pasok hingga kesiapan infrastruktur.
Di tengah proses penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri, ALVA membagikan pengalaman dan pandangannya terkait pengembangan ekosistem kendaraan listrik roda dua kepada Komisi VII DPR RI.
Melalui PT Ilectra Motor Group (IMG), ALVA ikut serta dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) RUU Kawasan Industri Komisi VII DPR RI di Kawasan Industri Lippo Cikarang, Bekasi.
Forum tersebut menjadi wadah bagi pelaku industri untuk menyampaikan pengalaman serta kebutuhan nyata di lapangan.
Chief Executive Officer ALVA, Purbaja Pantja, menegaskan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan memproduksi kendaraan semata.
“Pengembangan industri kendaraan listrik tidak hanya tentang kemampuan memproduksi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhannya secara berkelanjutan,”
“Melalui kesempatan ini, kami berbagi pengalaman 5 tahun ini ALVA sebagai pelaku industri, termasuk bagaimana kawasan industri dapat berperan dalam memperkuat manufaktur, mengembangkan rantai pasok lokal, dan meningkatkan daya saing industri kendaraan listrik Indonesia,” ujar Purbaja.
Sejak 2021, ALVA membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir, mulai riset dan pengembangan, manufaktur, distribusi, layanan purnajual, hingga infrastruktur pengisian daya.
Pabrik ALVA di Cikarang memiliki kapasitas produksi hingga 100.000 unit per tahun dan telah menerapkan konsep smart manufacturing berbasis Industry 4.0.
Dari sisi komponen lokal, seluruh lini produk ALVA kini telah meraih TKDN di atas 40 persen. Peningkatan kandungan lokal dilakukan melalui kolaborasi dengan pemasok dalam negeri.
Termasuk dua industri kecil dan menengah binaan Kementerian Perindustrian yang memasok komponen battery box dan battery bracket.
Meski demikian, ALVA menilai masih ada sejumlah ‘pekerjaan rumah’ untuk mempercepat pertumbuhan industri motor listrik, seperti pengembangan pemasok lokal, investasi teknologi, hingga kepastian arah kebijakan yang dapat mendorong pasar berkembang lebih cepat.
Selain manufaktur, ALVA juga menyoroti pentingnya peran kawasan industri dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik melalui penyediaan energi bersih, fasilitas riset, hingga infrastruktur pengisian daya.
“Keberadaan ALVA di kawasan industri memberikan kami akses terhadap berbagai fasilitas dan jaringan industri yang mendukung kegiatan manufaktur,”
“Ke depan, kami melihat peluang untuk semakin memperkuat integrasi antara produsen kendaraan, pemasok komponen, pengembangan teknologi, hingga infrastruktur pendukung,” tambah Purbaja.
Hingga September 2026, ALVA telah mengoperasikan lebih dari 590 konektor Boost Charge, memiliki 19 titik penjualan termasuk 10 ALVA Experience Center, serta didukung lebih dari 130 titik layanan purnajual yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
