Kemudi.id – Isuzu sudah melengkapi produk-produknya dengan teknologi common rail di mesin diesel yang dipakainya.
Dengan teknologi tersebut membuat pembakaran menjadi lebih sempurna, pemberian bahan bakar juga maksimal yang menghasilkan konsumsi bahan bakar menjadi lebih efisien dibanding kompetitornya.
Isuzu memulai inovasi penggunaan common rail untuk segmen kendaraan niaga, yang terbukti bandel, irit dan juga ramah lingkungan.
“Isuzu sudah menghadirkan teknologi common rail sejak 15 tahun lalu di Indonesia, dan terbukti bisa meningkatkan efisiensi bahan bakar serta menekan emisi gas buang,”
“Teknologi ini berdampak secara langsung kepada bisnis pelanggan lebih menguntungkan dan hingga kini terus menjadi pilihan Isuzu Partner di berbagai daerah di Indonesia,” ungkap Rian Erlangga, Business Strategy Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia.
Bukan hanya omong-omong saja, untuk membuktikan klaim tersebut, pihak PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) turun langsung melakukan pengujian.
Mengandalkan Isuzu Elf NLR L dengan mesin yang sudah standar Euro 4, perjalanan on-road dilakukan selama 26 hari dengan jarak tempuh 450 kilometer/hari.
GVW total kendaraan mencapai 5.400 kilogram, menggunakan bahan bakar Bio Solar selama perjalanan.
Hasil uji tim internal IAMI mencatat konsumsi bahan bakarnya 8,6 kilometer untuk 1 liter Bio Solar. Ini lebih irit sekitar 34,4% dibanding kompetitor.
Di sini ada potensi penghematan penggunaan Bio Solar hingga mencapai sekitar Rp 3,1 juta. Namun itu semua bergantung pada gaya mengemudi supir.
“Terbukti simulasi uji coba yang dilakukan internal berdampak kepada biaya operasional yang lebih hemat hingga 25,6% per bulan, sehingga memberikan keuntungan lebih bagi pelaku usaha dalam meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional kendaraan, dan tentunya lebih ramah lingkungan karena irit bahan bakar,” jelas Rian.
Selain dari teknologi tersebut, IAMI juga mendorong untuk melakukan eco driving guna konsumsi bbm yang lebih baik.
Sedikitnya ada 9 poin yang didorong IAMI untuk bisa diterapkan.
- Jaga putaran mesin tetap optimal
Hindari over-revving. Mesin diesel truk paling efisien di rentang torsi maksimal, bukan di RPM tinggi. Artinya, pindah gigi di momen yang tepat, jangan nunggu putaran mesin terlalu tinggi.
- Akselerasi halus, bukan agresif
Pedal gas diinjak secara bertahap, bukan sedalam-dalamnya. Akselerasi mendadak membuat konsumsi BBM naik drastis juga mempercepat keausan komponen seperti kopling dan ban.
- Antisipatif, bukan reaktif
Lihat kondisi jalan jauh ke depan. Jikalau ada lampu merah atau kemacetan di depan, lepas pedal gas lebih awal dan biarkan truk bergulir.
- Manfaatkan engine brake
Gunakan engine brake untuk membantu deselerasi. Selain membuat irit BBM, metode ini juga membantu kinerja rem lebih ringan serta memperpanjang umur kampas rem.
- Jaga kecepatan konstan
Kecepatan stabil kunci utama efisiensi. Biarkan mesin bekerja secara konstan agar pembakaran bahan bakar bisa efisien.
- Hindari idle terlalu lama
Mesin nyala tanpa jalan itu hanya membuang-buang solar. Jika berhenti cukup lama, lebih dari 10 menit, matikan mesin saja.
- Beban dan distribusi muatan
Overload atau distribusi beban yang tidak merata membuat mesin kerja lebih keras dan handling jadi buruk. Ini bukan cuma soal efisiensi, tapi juga safety.
- Tekanan ban ideal
Pastikan tekanan angin ban sesuai rekomendasi pabrik. Ban dengan tekanan angin yang kurang membuat kendaraan lebih berat, dan akhirnya berpengaruh terhadap kinerja mesin lebih keras. Ban juga menjadi lebih panas, sehingga mudah meledak.
- Gunakan gigi tinggi saat memungkinkan
Semakin tinggi gigi, semakin rendah RPM. Selama masih di zona torsi optimal, dan membuat hemat bahan bakar
