Sunday, January 18, 2026
HomeHeadline3 Penyebab Fitra Eri Mengendur Saat Akhir Balap ITCR 1500 di Sirkuit...

3 Penyebab Fitra Eri Mengendur Saat Akhir Balap ITCR 1500 di Sirkuit Mandalika

Kemudi.id – Fitra Eri sempat melesat ketika berlaga di putaran 5 ITCR 1500 di sirkuit Mandalika, Lombok (13/12/2025). Balap yang menjadi satu rangkaian dengan Mandalika Festival of Speed (MFoS).

Setelah lepas start, bak anak panah yang dilepas busur, pembalap Honda Bandung Center (HBC) ini sangat melesat. Tak terkejar oleh lawan-lawannya.

Bahkan baru berlangsung 2 lap saja, gap waktu dengan posisi 2 sudah mencapai nyaris 4 detik. Tentu ini jarak yang cukup jauh dengan peserta lainnya.

Karena baru awal-awal lap, Fitra masih tetap memacu mobilnya secara maksimal.

“Setingan mobil sangat pas dan memang sedang maksimal. Ditambah lagi yang di belakang sedang perebutan gelar juara sehingga ya seperti itu,” komentar Fitra.

Dengan performa mobil yang maksimal dengan pengendaraan yang juga presisi akhirnya Fitra bisa meninggalkan lawan di posisi 2 sejauh 10 detik.

Namun ketika finish, jarak dengan posisi ke-2 tersisa hanya 3,3 detik saja. Ternyata ada 3 penyebab dari Fitra yang membuat jaraknya terpangkas sangat banyak.

Kerb

Melihat jarak sudah sangat jauh dan kemungkinan besar tidak bisa tersusul, Fitra memilih untuk mengendurkan gas dan menghindari menginjak kerb.

Dengan demikian sebenarnya speed mobil menjadi sangat terpotong.

Fitra Eri jalankan 3 strategi saat lomba putaran 5 ITCR 1500 di sirkuit Mandalika, Lombok (13/12/2025) (foto: toncil)

“Kalau kita menginjak kerb kan kaki-kaki mobil jadi bekerja lebih keras. Yang tentu saja bisa membuat kaki-kaki jadi rusak. Jadi ya kita hindari saja, karena memang sudah jauh juga,” jelas pembalap yang mendapat sponsor dari Master Radiator Coolant.

Putaran mesin

Jika sedang berjibaku dengan pembalap lainnya dalam kondisi normal, tentu putaran mesin dibikin sampai maksimal, mencapai 7.500 rpm.

Namun karena sudah terlalu berjarak, putaran mesin saat perpindahan gigi diturunkan menjadi 6.800 rpm. Menurutnya, putaran mesin tersebut sudah sangat cukup dan tetap tenaga mesin keluar sempurna.

Enggak perlu ngotot untuk mencapai putaran mesin maksimal yang bisa berakibat tidak baik.

Pindah gigi

Ketika putaran mesin diturunkan, proses untuk pindah gigi juga disesuaikan lagi.

“Enggak perlu lagi pindah gigi cepat-cepat. Karena jaraknya sudah sangat aman, sambil tetap memantau kondisi di belakang. Beda kalau sedang fight, pindah gigi pasti cepat,”

“Toh untuk gue, mau menang jarak 1 menit atau 1 detik sekalipun semuanya sama kok. Tetap menang juga,” jelasnya lagi.

Balap tidak hanya asal gas pol saja.

TERKAIT
- Advertisment -

Terpopuler